JAWA BARAT — Peringatan tersebut mengemuka dalam talkshow literasi keuangan yang digelar PT Toyota Astra Financial Services (TAF) bersama Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK di GIIAS 2026, Jumat (7/8/2026). Acara ini menyoroti bagaimana godaan potongan harga dan skema pembiayaan ringan di pameran kerap membuat konsumen mengambil keputusan impulsif.
Empat Perilaku Finansial yang Sering Menggagalkan Rencana Beli Mobil
OJK memetakan setidaknya empat perilaku yang umum terjadi saat konsumen berbelanja kendaraan. Yang pertama adalah FOMO atau Fear of Missing Out, rasa takut tertinggal tren yang membuat seseorang membeli mobil hanya karena orang lain melakukannya. Kedua, FOPO atau Fear of Other People's Opinion, yaitu membeli demi pengakuan sosial sehingga memilih kendaraan berdasarkan gengsi, bukan kebutuhan.
Selain itu, ada pola YOLO (You Only Live Once) yang mendorong seseorang menghabiskan uang untuk kepuasan sesaat tanpa memikirkan masa depan. Terakhir, doom spending, kebiasaan belanja berlebihan yang dipicu kecemasan terhadap kondisi ekonomi.
Literasi Keuangan Jadi Fondasi Pembiayaan yang Sehat
Direktur TAF, Ezar Kumendong, menegaskan pemahaman terhadap produk keuangan adalah kunci utama sebelum menandatangani kontrak pembiayaan. Menurutnya, nasabah yang sadar penuh akan kondisi finansialnya cenderung membuat keputusan yang lebih bijak dan tidak membebani keuangan jangka panjang.
"Bagi TAF, literasi keuangan adalah fondasi dari pembiayaan yang sehat. Nasabah yang memahami produk dan kondisi finansialnya secara utuh akan mengambil keputusan yang lebih baik. Dan pada akhirnya, itu menciptakan kualitas portofolio yang lebih berkelanjutan bagi industri," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip VIVA Otomotif.
Promo Pameran Bukan Alasan untuk Mengesampingkan Kemampuan Bayar
GIIAS kerap menjadi ajang perburuan mobil baru karena banyak ATPM menawarkan program cicilan rendah atau DP ringan. Namun, OJK mengingatkan bahwa stimulus tersebut justru menjadi jebakan jika konsumen tidak menghitung total cicilan bulanan terhadap pemasukan tetap. Keputusan membeli di pameran seharusnya tetap mengacu pada rasio utang yang sehat, bukan sekadar mengejar hadiah atau potongan harga.
TAF menambahkan, edukasi berkelanjutan seperti ini penting untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan di industri otomotif nasional. Dengan pemahaman yang utuh, diharapkan angka kredit macet dapat ditekan dan ekosistem pembiayaan kendaraan di Indonesia tumbuh lebih stabil.