BANDUNG — Zona V di TPPAS Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, diperkirakan hanya mampu menerima kiriman sampah kurang lebih satu tahun lagi. Kondisi ini memicu kekhawatiran bakal terjadi darurat sampah di wilayah Bandung Raya apabila tidak diantisipasi sejak sekarang.
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Tedy Rusmawan menyebut area pembuangan terakhir itu sudah nyaris penuh. Padahal, fasilitas pengolahan sampah pengganti, TPPAS Legok Nangka, baru ditargetkan rampung pada 2029.
“Areanya sudah nyaris penuh serta diperkirakan hanya mampu menerima kiriman kurang lebih satu tahun lagi,” kata Tedy kepada ANTARA di Bandung, Jumat.
Jeda Waktu 3-4 Tahun yang Berpotensi Menimbulkan Darurat Sampah
Tedy menilai terdapat jeda waktu sekitar tiga hingga empat tahun yang berpotensi menimbulkan darurat sampah. Rentang waktu ini terjadi antara masa operasional Sarimukti yang hampir habis dengan target penyelesaian TPPAS Legok Nangka.
Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius. Tanpa langkah pengurangan sampah yang masif, risiko penumpukan di sumber maupun fasilitas antara menjadi semakin nyata.
Pemilahan Sampah Organik dari Rumah Tangga Jadi Kunci
Ia mendorong pemerintah daerah di wilayah Bandung Raya yang masih bergantung pada Sarimukti untuk segera melakukan upaya konkret. Salah satu yang paling mungkin dipercepat adalah penguatan pemilahan sampah dari sumber atau rumah tangga.
Tedy menegaskan masyarakat harus disiplin memisahkan sampah sejak dari rumah. Sampah organik yang volumenya dominan disebut bisa dikelola secara mandiri di tingkat lingkungan, misalnya melalui komposting atau biopori.
“Masyarakat harus disiplin memisahkan sampah sejak dari rumah, terutama sampah organik yang dapat dikelola secara mandiri di tingkat lingkungan,” ujarnya.
Beban Sarimukti Menunggu Keberadaan TPPAS Legok Nangka
Hingga kini, sejumlah daerah di Bandung Raya masih mengandalkan Sarimukti sebagai lokasi pemrosesan akhir sampah. Dengan sisa kapasitas yang terbatas, partisipasi aktif warga dalam memilah sampah dinilai menjadi penentu utama agar TPPAS tersebut tidak cepat penuh sebelum Legok Nangka beroperasi.
Upaya pengurangan dari hulu ini diharapkan bisa menekan volume kiriman harian ke Sarimukti. Dengan begitu, masa pakai zona V bisa diperpanjang sembari menunggu fasilitas pengganti selesai dibangun.