JAWA BARAT — Wakil Presiden Eksekutif Microsoft Amy Coleman mengatakan keputusan ini merupakan respons terhadap perubahan industri yang berlangsung sangat cepat. Dalam memo internal yang dikutip BBC, Kamis (9/7), ia menegaskan perusahaan tidak bisa memilih apakah industri berubah, tetapi bisa memilih apakah akan ikut berubah.
"Perusahaan tidak dapat memilih apakah industrinya berubah, tetapi dapat memilih apakah akan berubah bersama industri tersebut," ujar Coleman.
Coleman juga menegaskan bahwa posisi yang dihapus bukan akan digantikan oleh AI. Namun, ia mengakui teknologi AI telah mengubah cara kerja di dalam perusahaan.
Empat Studio Gim Dilepas, Mojang dan King Kini Langsung ke Pimpinan Xbox
Restrukturisasi paling signifikan dalam sejarah Xbox ini tidak hanya berhenti pada pemangkasan karyawan. Empat studio pengembang gim—Compulsion Games, Double Fine Productions, Ninja Theory, dan Undead Labs—dipisahkan dari organisasi Xbox.
Chief Executive Officer Xbox Asha Sharma menyebut langkah ini sebagai awal transformasi. "Perubahan ini adalah tentang masa depan Xbox yang lebih besar, bukan yang lebih kecil," kata Sharma dalam pernyataan di platform X.
Sebagai bagian dari perubahan strategi, Double Fine dan Compulsion Games akan kembali menjadi studio independen dengan tetap mempertahankan hak atas kekayaan intelektual mereka. Sementara Mojang, pengembang Minecraft, dan King, pengembang Candy Crush, kini akan melapor langsung kepada pimpinan Xbox.
Tekanan dari Dua Sisi: Efisiensi Biaya dan Perang Streaming Gim
Analis teknologi Paolo Pescatore menilai restrukturisasi ini menunjukkan perubahan arah strategi Microsoft pada bisnis gim. Menurutnya, tantangan Xbox bukan hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga mendefinisikan ulang posisinya di tengah pergeseran industri ke layanan cloud, PC, konsol, dan model berlangganan.
"Xbox perlu menentukan kembali identitasnya di dunia ketika pemain dapat mengakses gim dari berbagai platform," kata Pescatore.
Analis Ampere Analysis, Piers Harding-Rolls, menambahkan bahwa langkah ini mencerminkan strategi Xbox untuk lebih berfokus pada waralaba gim unggulan dan basis pengguna yang lebih besar. Menurut Piers, Microsoft sebelumnya mengakuisisi banyak studio untuk memperkuat layanan Game Pass, tetapi kini menilai sebagian studio akan memiliki prospek lebih baik jika beroperasi secara independen.
Ekspansi AI dan Efisiensi Berantai
Gelombang PHK ini terjadi di tengah peningkatan investasi Microsoft pada AI dan infrastruktur pusat data dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan telah mengumumkan rencana belanja AI bernilai miliaran dolar AS yang diikuti dengan serangkaian efisiensi di berbagai unit bisnis.
Ini bukan pertama kalinya Xbox terkena imbas efisiensi Microsoft. Pada 2024, perusahaan juga memangkas lebih dari 2.000 karyawan di Xbox dan menutup empat studio gim setelah mengakuisisi Activision Blizzard senilai Rp 1.072 triliun (estimasi kurs Rp 16.000 per dolar AS).