Pencarian

Dedi Mulyadi Soroti Budaya Akademik yang Normatif demi Gelar: Pengetahuan Harus Jadi Karya Nyata untuk Masyarakat

Senin, 10 Agustus 2026 • 13:03:24 WIB
Dedi Mulyadi Soroti Budaya Akademik yang Normatif demi Gelar: Pengetahuan Harus Jadi Karya Nyata untuk Masyarakat
Dedi Mulyadi menyampaikan pandangannya mengenai budaya akademik dalam sebuah forum di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan kritik tajam terhadap budaya akademik di Indonesia yang dinilainya terlalu berorientasi pada pemenuhan syarat administratif, bukan pada pemecahan masalah nyata di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa persoalan bangsa tidak akan selesai hanya dengan pergantian rezim atau perubahan regulasi, melainkan butuh insan akademik yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi dalam sebuah forum yang dikutip Senin (10/8/2026). Menurut dia, masih ada jarak yang lebar antara gagasan yang berkembang di lingkungan kampus dengan persoalan sehari-hari warga. Bahkan, kesenjangan itu terlihat jelas dari berbagai masalah sosial yang muncul di sekitar pusat-pusat pendidikan.

Gelar Bukan Tujuan Akhir Pendidikan

Dedi menyayangkan praktik akademik yang berhenti pada pencapaian formal. Ia menilai pengetahuan baru bermakna ketika mampu melahirkan sesuatu yang konkret dan solutif.

“Akademik di kita sering kali bersifat normatif administratif untuk memenuhi gelar, tanpa ada kejujuran dan keadilan serta tidak menjunjung nilai-nilai kebenaran,” kata Dedi.

Menurutnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berkontribusi terhadap masyarakat. Gelar sarjana, magister, atau doktor tidak boleh menjadi garis finish, melainkan titik tolak untuk berinovasi.

Akademisi Harus Naik Kelas Menjadi Pencipta

Dedi mendorong kalangan kampus untuk berevolusi dari sekadar penguasa teori menjadi pencipta karya. Ia mencontohkan berbagai bentuk inovasi yang bisa dihasilkan, mulai dari lagu, desain arsitektur, sistem pendidikan, aplikasi digital, hingga sistem energi terbarukan.

“Kalau sudah pencipta, maka harus ada yang diciptakan. Bisa menciptakan lagu, karya arsitektur, sistem pendidikan, sistem aplikasi, sistem energi,” tuturnya.

Dedi menekankan bahwa karya tidak harus selalu berwujud teknologi rumit. Sebuah sistem pengajaran yang lebih baik di sekolah atau aplikasi sederhana untuk mengurus administrasi kependudukan juga merupakan bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan telah diwujudkan menjadi manfaat publik.

Warisan Leluhur: Pengetahuan untuk Karya, Bukan Sekadar Kitab

Gubernur mengaitkan pandangannya dengan tradisi pengetahuan lokal Nusantara. Ia mengingatkan bahwa leluhur bangsa tidak pernah menjadikan pengetahuan sebagai tumpukan tulisan yang berhenti di rak buku.

Pengetahuan, lanjut Dedi, seharusnya diwujudkan dalam bentuk kesadaran dan karya yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Tradisi ini yang dinilainya mulai luntur di tengah hiruk-pikuk dunia akademik modern.

Bahasa Langit Harus Dijelaskan dalam Bahasa Bumi

Dedi juga menyoroti cara akademisi mengkomunikasikan gagasannya. Ia meminta para intelektual mampu menjembatani bahasa ilmiah yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami warga awam.

“Seluruh bahasa yang langit itu harus dijelaskan dalam bahasa bumi,” katanya.

Menurut Dedi, gagasan sebesar apa pun akan kehilangan arti jika hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas. Para akademisi dituntut turun gunung dan berdialog dengan realitas, bukan justru mengisolasi diri di menara gading.

Follow www.jabarprime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks