TASIKMALAYA — Peringatan Hari Jadi ke-394 Kabupaten Tasikmalaya pada Minggu (26/7/2026) berlangsung meriah dengan karnaval Batik Sukapura, pemecahan rekor MURI untuk sajian opak, serta bazar UMKM hasil kolaborasi pemda dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Namun, di balik kemeriahan itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) setempat menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
“Hari Jadi, Jadi Apa?”
Ketua PC PMII Kabupaten Tasikmalaya, Agis Magfur, menegaskan bahwa hari jadi seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar seremonial tahunan. “Hari jadi, jadi apa? HUT Kabupaten Tasikmalaya ke-394 bukan hanya cukup sebatas seremonial. Momen ini harus menjadi refleksi bersama terhadap kondisi daerah saat ini,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).
Enam Pekerjaan Rumah yang Disorot Mahasiswa
Agis merinci beberapa persoalan yang masih membelit daerah. Pertama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tasikmalaya tercatat sebagai salah satu yang terendah di Jawa Barat. Kedua, infrastruktur jalan di sejumlah wilayah pedesaan dinilai belum memadai. Ketiga, fasilitas pendidikan di daerah pelosok masih terbatas. Keempat, akses layanan kesehatan bagi masyarakat di kawasan terpencil sulit dijangkau. Kelima, minimnya kesempatan kerja, pelatihan keterampilan, serta akses permodalan bagi generasi muda.
Pinjaman Rp230,25 Miliar untuk Jalan 63 Km
Selain itu, Agis mengkritisi kondisi fiskal daerah yang disebut masih bergantung pada pinjaman untuk membiayai infrastruktur dasar. Ia merujuk pada pinjaman Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) senilai Rp230,25 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun dan memperbaiki 32 ruas jalan dengan total panjang sekitar 63 kilometer. “Bagaimana mungkin sebuah daerah merayakan hari jadinya dengan begitu meriah, sementara untuk membangun infrastruktur paling mendasar saja pemerintahnya harus menggadaikan masa depan lewat pinjaman,” ujar Agis.
PMII berharap peringatan tahun depan tidak hanya diisi panggung hiburan, tetapi benar-benar menjadi ajang evaluasi dan aksi nyata bagi kemajuan Tasikmalaya.