JAWA BARAT — Bagi sebagian besar penggemar gadget, nama Sennheiser identik dengan headphone kelas audiophile seperti seri HD 600 atau Momentum. Namun, sejarah perusahaan yang bermula sebagai Laboratorium Wennebostel (Labor W) pada 1945 justru dimulai dari peralatan pengukur elektronik presisi untuk laboratorium dan industri. Baru setahun kemudian, pada 1946, Sennheiser mulai memproduksi mikrofon.
Dalam perkembangannya, Sennheiser terbagi menjadi dua entitas bisnis. Divisi audio profesional (mikrofon, konferensi) masih dikelola langsung oleh Sennheiser. Sementara itu, sejak 2022, divisi headphone konsumen dan soundbar berada di bawah lisensi jangka panjang perusahaan asal Swiss, Sonova. Meski begitu, nama Sennheiser tetap melekat di semua produknya.
Berikut lima lini produk Sennheiser selain headphone yang perlu kamu tahu, terutama jika sedang mencari perangkat audio berkualitas untuk kebutuhan spesifik.
Soundbar AMBEO: Home Theater Imersif Tanpa Ribet Kabel
Lewat merek AMBEO, Sennheiser menawarkan tiga varian soundbar yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman suara 3D tanpa perlu memasang speaker surround fisik. Ketiganya mendukung format Dolby Atmos dan DTS:X, format suara surround 3D yang ideal untuk menonton film dan bermain game.
- AMBEO Max (USD 2.000 / sekitar Rp 33 juta): Ditujukan untuk ruang tamu besar dengan kemampuan bass dalam dan efek surround lebar.
- AMBEO Plus (USD 1.000 / sekitar Rp 16,5 juta): Varian mid-range untuk ruang keluarga berukuran sedang, tetap mampu mengisi ruangan dengan suara bertenaga.
- AMBEO Mini (USD 500 / sekitar Rp 8,25 juta): Paling ringkas, cocok untuk ruangan hingga 25 meter persegi.
Ketiga soundbar ini dilengkapi mikrofon kalibrasi ruangan dan pemrosesan digital untuk menciptakan panggung suara tiga dimensi dari satu unit. Beberapa input HDMI dan aplikasi pendamping untuk pengaturan tersedia di semua varian.
Mikrofon Legendaris: Dari Panggung Kecil hingga Produksi Film
Divisi profesional Sennheiser masih memproduksi mikrofon sendiri (bukan oleh Sonova). Dua produk yang menjadi tolok ukur industri adalah e835 dan MKH 416.
Sennheiser e835 adalah mikrofon handheld dinamis seharga USD 100 (sekitar Rp 1,65 juta). Dalam ulasan Home Recording Lab, mikrofon ini disebut mampu bersaing dengan Shure SM58, mikrofon panggung legendaris yang menjadi standar industri pertunjukan live. "Anda tidak akan kecewa dengan suara atau gayanya," tulis ulasan tersebut, meski ada catatan soal ketahanan jika sering dibawa tur.
Sementara itu, MKH 416 adalah mikrofon shotgun pendek yang dirilis sejak 1975 dan masih diproduksi hingga kini. Dengan harga USD 1.049 (sekitar Rp 17,3 juta), mikrofon ini menjadi andalan produksi film, radio, dan televisi, terutama untuk syuting lokasi. MusicianNerd memberikan nilai 10/10 untuk mikrofon ini, memuji direktivitasnya yang sangat baik dan noise rendah, dengan satu kekurangan: harganya yang mahal.
Alat Bantu Dengar Over-the-Counter: Solusi untuk Gangguan Pendengaran Ringan
Masuk dalam lini bisnis Sonova, Sennheiser meluncurkan alat bantu dengar All-Day Clear dan All-Day Clear Slim pada 2023. Keduanya telah mendapatkan izin FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) dan dijual bebas tanpa resep dokter untuk pengguna dengan gangguan pendengaran ringan hingga sedang.
Fitur utamanya meliputi streaming Bluetooth, deteksi suasana otomatis, dan peningkatan kualitas suara percakapan. Baterainya bertahan hingga 24 jam per pengisian daya. Yang menarik, pemasangan bisa dilakukan sendiri melalui panduan aplikasi, tanpa perlu tes pendengaran atau kunjungan ke klinik. Harganya USD 1.400 (sekitar Rp 23,1 juta) untuk varian All-Day Clear dan USD 1.500 (sekitar Rp 24,75 juta) untuk All-Day Clear Slim.
Dengan portofolio seluas ini, Sennheiser membuktikan diri bukan sekadar produsen headphone. Baik kamu seorang kreator konten yang butuh mikrofon andal, penggemar film yang ingin meningkatkan kualitas audio TV, atau pengguna dengan kebutuhan pendengaran spesifik, Sennheiser memiliki produk yang dirancang untuk memenuhi standar tinggi di masing-masing segmen.