960 Hektare Sawah di Cianjur Terancam Kekeringan, DTPHP Pasang Pompa Irigasi di 13 Kecamatan

Penulis: Prayoga Santana  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:33:01 WIB
Hektare sawah di Cianjur terancam kekeringan, DTPHP memasang pompa irigasi di 13 kecamatan.

CIANJUR — Ancaman kekeringan mulai menghantui sentra produksi padi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Data terakhir per 31 Juli mencatat 960 hektare lahan persawahan di 13 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga puso.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Cianjur, Dandan Hendrayana, mengungkapkan wilayah terdampak paling luas berada di Kecamatan Cibeber yang mencapai 191 hektare. Lahan kritis lainnya tersebar di Kadupandak, Sukanagara, Pegelaran, Gekbrong, Cugenang, Pasir Kuda, Campaka, Cilaku, Karangtengah, Ciranjang, dan Naringgul.

Empat Kecamatan Masuk Kategori Terdampak Berat

Dari total lahan yang terancam, DTPHP Cianjur mengklasifikasikan dampak ke dalam empat tingkatan: ringan, sedang, berat, dan puso. Kategori terdampak berat tercatat di empat kecamatan, yakni Cibeber, Gekbrong, Cilaku, dan Sukaluyu.

"Terkait dampak terbagi dalam empat tingkatan, ringan, sedang, berat, dan fuso, dimana terdampak berat terdapat di empat kecamatan," kata Dandan di Cianjur, Kamis.

Sementara itu, lahan dengan tingkat kekeringan sedang mencapai 13 hektare yang tersebar di Haurwangi, Cikalongkulon, Sukaluyu, Gekbrong, Cilaku, dan Cibeber. Untuk kategori ringan, luasannya lebih besar yakni 146 hektare, dengan sebaran terbanyak di Sukaluyu seluas 52 hektare dan Cibeber 34 hektare.

Pompanisasi Jadi Andalan Jaga Produksi Padi

Menghadapi situasi ini, DTPHP Cianjur mengoptimalkan pompanisasi di 13 kecamatan yang memiliki saluran irigasi. Langkah ini diambil untuk menambah debit air dan memastikan lahan yang terdampak dapat segera pulih.

Berbagai upaya dilakukan agar produksi padi tetap berjalan maksimal meski musim kemarau melanda. Target serapan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 630.402 ton dari luas tanam sekitar 140 ribu hektare diharapkan tetap tercapai.

Dandan menambahkan, penanganan kekeringan pada musim tanam April-September menjadi prioritas utama. Petugas kontrol di pintu air juga diperketat agar aliran irigasi tetap fokus ke lahan pertanian, bukan terbuang ke area lain.

Penyesuaian Jadwal Tanam dan Pola Irigasi

Selain pemasangan pompa, DTPHP Cianjur mendorong penggunaan irigasi perpompaan secara merata. Penyesuaian jadwal tanam dan pola tanam juga menjadi strategi agar lahan pertanian tetap mendapat pasokan air dari berbagai sumber selain irigasi utama.

Langkah antisipasi ini menjadi krusial mengingat sektor pertanian merupakan tulang punggung ekonomi sebagian besar warga Cianjur. Kegagalan panen akibat kekeringan berpotensi mengganggu pasokan beras dan pendapatan petani di wilayah selatan Jawa Barat tersebut.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top