Kimia Farma Cetak Laba Rp 54 Miliar di Semester I-2026, Harga Saham Masih di Bawah Nilai Buku

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:58:31 WIB
Petugas menunjukkan produk obat di salah satu apotek Kimia Farma di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

JAWA BARAT — Setelah terpuruk pada tahun sebelumnya, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akhirnya menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Pada paruh pertama 2026, perseroan mencatatkan laba bersih Rp 54,07 miliar, sebuah pembalikan signifikan dibandingkan periode yang sama di 2025 yang masih menelan rugi Rp 135,61 miliar.

Kinerja ini ditopang oleh kenaikan penjualan neto 7,6 persen menjadi Rp 4,70 triliun dari sebelumnya Rp 4,36 triliun. Laba usaha bahkan melonjak 111,3 persen menjadi Rp 152,21 miliar, menandakan perbaikan fundamental di lini produksi dan distribusi.

Di pasar modal, saham KAEF ditutup menguat 1,33 persen ke level Rp 458 pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Menariknya, valuasi saham perseroan masih berada di bawah nilai buku, dengan rasio price to book value (PBV) 0,88 kali. Artinya, pasar masih menilai harga saham Kimia Farma lebih murah dibanding aset bersih yang dimiliki perusahaan.

Efisiensi Mulai Terasa, tapi Ada Tekanan dari Timur Tengah

Perbaikan kinerja ini bukan kebetulan. Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan transformasi yang dijalankan bersama Holding BUMN Farmasi di bawah PT Bio Farma (Persero) dan dukungan Danantara Asset Management (DAM) mulai membuahkan hasil.

"KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola. Kinerja positif pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur," ujar Djagad dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Salah satu indikator efisiensi yang membaik adalah rasio beban usaha terhadap penjualan, yang turun menjadi 33,2 persen dari sebelumnya 34,2 persen. Artinya, program pengendalian biaya mulai efektif menekan pengeluaran operasional.

Kendati demikian, bukan berarti tidak ada hambatan. Pada kuartal II-2026, gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas impor, yang menekan biaya produksi. Perseroan merespons dengan efisiensi lanjutan, pengendalian biaya ketat, dan penyesuaian harga secara selektif pada sejumlah produk.

Fokus Produksi Bahan Baku Obat Lokal

Transformasi Kimia Farma tidak hanya berhenti di perbaikan angka keuangan. Perseroan menggenjot produksi bahan baku obat (BBO) di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor. Fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran dioptimalkan untuk memproduksi sekitar 50 produk utama, termasuk obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.

Di sektor hulu, anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) telah memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, dengan 18 di antaranya bersertifikat halal. Perseroan juga mempercepat lokalisasi produk prioritas yang sebelumnya bergantung pada impor, sebagai upaya memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.

Jaringan Layanan Kesehatan untuk 23 Juta Peserta BPJS

Di sisi hilir, Kimia Farma mengandalkan jaringan layanan kesehatan yang luas: lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik, dan lebih dari 60 laboratorium di seluruh Indonesia. Infrastruktur ini melayani sekitar 23 juta peserta BPJS Kesehatan dan mendukung program pemerintah seperti penanganan stunting, eliminasi tuberkulosis (TB), hingga layanan kesehatan lansia.

Djagad optimistis transformasi yang berjalan akan memperkuat posisi Kimia Farma sebagai pilar industri kesehatan nasional. "Fokus kami tetap pada penguatan bisnis yang sehat, ketersediaan obat, peningkatan layanan kesehatan, serta dukungan terhadap program prioritas nasional," tutupnya.

Dengan laba yang kembali hijau dan valuasi yang masih murah, Kimia Farma kini berada di persimpangan: membuktikan bahwa transformasi struktural mampu bertahan di tengah tekanan eksternal, sekaligus menepis skeptisisme pasar terhadap masa depan BUMN farmasi.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: detak.media This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top