PANGANDARAN — Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Dodo Kusnadi memastikan belum ada laporan kerusakan bangunan akibat gempa yang berpusat di laut Pangandaran. Pihaknya kini tengah melakukan pendataan menyeluruh terhadap kondisi pemukiman, khususnya di kawasan pesisir pantai yang getarannya diperkirakan paling terasa.
“Sementara kerusakan belum ada laporan,” kata Dodo Kusnadi saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada Rabu 5 Agustus 2026 pukul 21.55 WIB. Titik lokasinya berada di koordinat 8,12 derajat Lintang Selatan (LS) dan 107,91 derajat Bujur Timur (BT), atau sekitar 79 kilometer barat daya Kabupaten Pangandaran.
Meski berkekuatan sedang, guncangan terasa cukup kuat oleh masyarakat. Hal itu disebabkan pusat gempa yang dangkal, hanya berada di kedalaman sekitar 18 km di bawah laut.
“Goncangan dirasakan karena kedalaman gempa hanya 18 km,” jelasnya.
Dodo menyampaikan kondisi masyarakat saat ini telah kembali normal dan beraktivitas seperti biasa. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Pangandaran merupakan daerah rawan bencana alam, termasuk gempa bumi dan tsunami.
“Alhamdulillah, aman, imbauan agar tetap waspada karena Pangandaran merupakan daerah rawan bencana, terutama tsunami dan gempa,” kata Dodo Kusnadi.
Guncangan gempa tidak hanya dirasakan warga Pangandaran. Sejumlah daerah tetangga seperti Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut juga merasakan getarannya, bahkan hingga Kabupaten Bandung.
BPBD Kabupaten Pangandaran akan terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau warga untuk segera melapor apabila menemukan kerusakan pada bangunan tempat tinggalnya.