CIMAHI — Kota Cimahi yang dikenal padat dengan lahan pertanian terbatas kini berupaya memutus ketergantungan pasokan pangan dari daerah lain. Pemerintah kota mendorong warganya untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan kosong, atap rumah, hingga ember bekas untuk menghasilkan bahan pangan sendiri.
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Tita Mariam, mengatakan pihaknya menyosialisasikan tiga metode utama yang cocok untuk lingkungan perkotaan. Pertama, kebun komunitas di lahan fasilitas umum. Kedua, berkebun di atap rumah atau rooftop farming. Ketiga, budikdamber yang menggabungkan budi daya ikan dan sayuran dalam satu wadah ember.
"Program ini dapat meliputi kebun komunitas, berkebun di atap rumah, atau budikdamber, yang cocok untuk lingkungan perkotaan dengan ruang terbatas," ujar Tita di Cimahi, Kamis.
Selain produksi pangan segar, Pemkot Cimahi juga menggenjot sektor UMKM pengolahan pangan lokal. Strateginya, hasil panen dari urban farming tidak hanya dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang lebih tahan lama dan mudah didistribusikan.
"Ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pemkot Cimahi bisa memberikan dukungan melalui pelatihan dan akses pembiayaan untuk para pelaku UMKM," kata Tita.
Untuk mengantisipasi skenario terburuk saat kemarau, pemerintah daerah telah menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Saat ini, total cadangan mencapai 73.971,20 kilogram, yang terdiri dari 50.261,20 kilogram beras medium dan 23.710 kilogram beras premium. Seluruh stok tersebut disimpan di gudang Bulog Kantor Cabang Bandung.
Pemkot juga terus memantau distribusi dan pasokan pangan dari daerah pemasok. Pengendalian harga pasar dilakukan secara ketat untuk menjaga daya beli masyarakat selama musim kemarau. "Kalau untuk pangan kita memang sejauh ini disuplai dari daerah lain. Seperti beras misalnya, karena lahan pertanian kita kan sangat terbatas," tambah Tita.