BANDUNG — Suasana kontras terlihat di Pasar Kain Cigondewah, Kecamatan Bandung Kulon, pada pagi hari. Di saat tak lebih dari tujuh orang pembeli lalu lalang, Wisnu (35) justru sibuk bercakap di depan ponsel yang terpasang di tripod. Ia menyodorkan kain brokat warna biru dongker ke arah kamera.
"Ini yang best seller minggu ini ya kak," ucapnya, bukan kepada pengunjung pasar, melainkan kepada warganet yang menonton siaran langsungnya. Pemandangan itu menjadi wajah baru kawasan yang dikenal dengan nama Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC) ini.
Pasar Kain Cigondewah bukanlah simpul ekonomi baru. Kawasan ini mulai tumbuh pada 1980-an, berawal dari segelintir orang yang menjual kain bekas atau limbah pabrik. Perlahan, hamparan sawah berubah menjadi sentra kain dengan ratusan pedagang.
Secara fisik, pembangunan Pasar Kain Cigondewah dimulai pada 2001 dengan hanya tujuh unit toko. Kini, tercatat ada 71 pelaku usaha dengan 110 unit usaha di dalamnya. Masa kejayaan pasar ini terjadi pada periode 2005 hingga 2015, ketika pembeli datang berbondong-bondong setiap harinya.
Pada era keemasannya, para pedagang bisa mengantongi omzet hingga Rp 25 juta per hari. Meter demi meter gulungan kain dipotong dan dibawa pulang pembeli yang berdesakan. Namun, situasi itu kini berbalik 180 derajat. Area parkir motor dan mobil tampak lenggang, garis marka jalan masih jelas karena jarang terlindas roda kendaraan.
Kondisi inilah yang mendorong para pedagang seperti Wisnu untuk beradaptasi. Lewat ponsel dan tripod, mereka tetap bisa menawarkan dagangan meski pasar fisik sepi. Perubahan model dagang ini menjadi salah satu fokus BPS Kota Bandung dalam Sensus Ekonomi 2026 untuk memotret transformasi sektor usaha mikro di tengah tekanan digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen.