Warga 3 RW di Padalarang Geruduk PT Kurnia Marmer, Keluhkan Polusi Debu dan Getaran Mesin Bertahun-tahun

Penulis: Prayoga Santana  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:50:31 WIB

BANDUNG BARAT — Polusi debu hitam dan getaran mesin yang berlangsung bertahun-tahun memicu puluhan warga dari tiga RW di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, menggeruduk PT Kurnia Marmer pada Sabtu (25/7/2026). Mereka menuntut perusahaan menghentikan aktivitas pabrik yang diduga menyebabkan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan sesak napas.

Debu Hitam Diduga dari Pembakaran Petcoke

Warga mengeluhkan debu hitam yang diduga berasal dari proses pembakaran di pabrik. Lintang (27), salah seorang warga, mengatakan bahwa setiap pagi lantai rumah dipenuhi debu hitam seperti abu arang.

"Pakaian yang dijemur di luar juga terkena debu. Banyak warga mengalami gatal-gatal dan sesak napas," ujarnya kepada wartawan.

Lintang menduga perusahaan menggunakan petcoke sebagai bahan bakar. "Petcoke itu mengandung sulfur. Nilai kalorinya memang lebih tinggi daripada batu bara, tetapi efek polusinya juga lebih besar. Debu hasil pembakarannya beterbangan ke mana-mana," katanya.

Getaran Mesin 24 Jam Ganggu Kenyamanan

Selain polusi udara, warga juga mengeluhkan getaran mesin yang dirasakan hampir sepanjang hari akibat operasional pabrik selama 24 jam. Kondisi itu dinilai mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Menurut mereka, keluhan soal getaran ini sudah disampaikan berulang kali ke pihak perusahaan, namun tidak ada solusi nyata.

Protes Pembangunan Benteng Tanpa Musyawarah

Aksi tersebut juga dipicu rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa. Warga memprotes karena rencana itu dilakukan tanpa pemberitahuan maupun musyawarah dengan masyarakat terdampak.

"Selain mempersoalkan polusi debu dan getaran mesin, kami juga memprotes rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa karena dilakukan tanpa musyawarah dengan warga," kata Lintang.

Warga yang mengikuti aksi berasal dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Ciburuy. Mereka mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi, namun tidak pernah mendapatkan tanggapan yang memuaskan dari pihak perusahaan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT Kurnia Marmer.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: jabarekspres.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top