BANDUNG — Manchester City mengambil langkah berani di bursa transfer dengan mengeluarkan dana fantastis untuk mendatangkan Elliot Anderson. Nilai transfer sebesar 116 juta poundsterling atau setara Rp2,78 triliun menjadikannya pemain Inggris termahal dalam sejarah klub. Keputusan ini diambil di tengah fase transisi kritis yang dihadapi The Citizens pada musim 2025/2026.
Keputusan City menggelontorkan dana sebesar itu bukan tanpa alasan. Anderson mencatatkan statistik luar biasa di Premier League musim lalu. Ia menjadi pemain outfield nomor satu di Liga Inggris dalam hal sentuhan bola, yakni 3.300 kali sepanjang musim. Ia juga memimpin dalam perebutan penguasaan bola kembali dengan catatan 306 kali.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa Anderson bukan sekadar gelandang biasa. Ia mampu bertahan sekaligus membangun serangan dari lini tengah. Fleksibilitas taktisnya memungkinkan ia mengisi peran ganda sebagai gelandang bertahan (No. 6) maupun pengatur serangan (No. 10). Kemampuan ini menjadi solusi tepat atas kepergian Bernardo Silva ke Real Madrid dan ketidakpastian kontrak Rodri.
Kepercayaan City terhadap Anderson juga didasari penampilannya di level internasional. Ia menjadi pilar utama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 di bawah asuhan Thomas Tuchel. Anderson tampil sebagai starter dalam enam pertandingan hingga babak perempat final dengan total menit bermain mencapai 532 menit. Ia juga mencatatkan satu assist krusial saat melawan Kroasia.
Performa gemilangnya di level klub konsisten terbawa ke panggung internasional. Ini menjadi bukti bahwa Anderson memiliki kapasitas elit yang dibutuhkan untuk bersaing di kompetisi tertinggi Eropa.
Pembelian rekor ini menjadi taruhan besar bagi Manchester City untuk mempertahankan hegemoni di Premier League dan Liga Champions. Dengan usia baru 23 tahun dan profil all-rounder yang langka, Anderson diproyeksikan bukan hanya sebagai pengganti sesaat. Ia diharapkan menjadi fondasi baru era Maresca yang tengah membangun ulang lini tengah tim.
Jika mampu beradaptasi cepat, gelandang ini akan menjadi kunci kebangkitan City di sisa musim dan kompetisi Eropa mendatang. Keputusan menggelontorkan Rp2,78 triliun untuk seorang pemain muda pun menjadi langkah penuh perhitungan, bukan sekadar pemborosan.